Pemerintah Desa Perangat Baru Dorong Pengembangan Kopi Luwak untuk Tingkatkan Ekonomi Warga

img

Kepala Desa Perangat Baru Fitrianti (pic:tanty)

 

POSKOTAKALTIMNEWS, KUKAR : Pemerintah Desa Perangat Baru, Kecamatan Marangkayu, terus berupaya mendorong pengembangan Kopi Luwak jenis Liberika sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan perekonomian warga.

 

Desa yang berada di Kabupaten Kukar ini menjadi salah satu dari tiga titik di Indonesia yang dikenal membudidayakan Kopi Liberika, dan menjadikannya sebagai komoditas unggulan lokal.

 

Hal ini diungkapkan Kepala Desa Perangat Baru Fitrianti saat diwawancarai Poskotakaltimews Senin (12/11/2024), pada kegiatan sosialisasi Data Desa Presisi di Bappenda Kukar.

 

Ia menyampaikan bahwa pengembangan Kopi Luwak dilakukan melalui kelompok tani setempat dengan tujuan memperkuat ketahanan ekonomi desa.

 

"Kami ingin menjadikan Kopi Luwak sebagai ikon desa dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat," ujarnya

 

Fitrianti mengatakan saat ini, terdapat 24 petani yang terdaftar dalam kelompok tani kopi di desa Perangat Baru. Dalam hal ini pemerintah desa pun berencana untuk merekrut lebih banyak petani agar dapat memperoleh pembinaan serta dukungan yang lebih intensif dari pemerintah daerah dan mitra korporasi, seperti Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT).

 

Fitrianti menjelaskan mopi liberika di desa ini membutuhkan waktu tanam dua tahun sebelum siap dipanen. Dalam satu musim panen, satu hektar lahan dapat menghasilkan sekitar 700 gram hingga 1 kilogram Kopi Luwak per hari.

 

“Setiap tahunnya, terdapat dua musim panen besar yang dikenal dengan musim merah,” katanya.

 

Lebih lanjut, terkait harga Fitrianti menyebutkan Kopi Luwak dari Desa Perangat Baru dibanderol dengan harga Rp 5 juta per kilogram. Harga yang tinggi ini sebanding dengan kualitas dan keunikan rasa yang ditawarkan.

 

Bahkan, Kopi Luwak dari desa ini sudah diminati oleh sejumlah hotel ternama, seperti Mercure dan Ibis. Namun, keterbatasan produksi saat ini menjadi tantangan bagi desa untuk memenuhi permintaan skala besar tersebut. Selain itu, Kopi Luwak dari Desa Perangat Baru juga menarik perhatian beberapa destinasi wisata di Bali.

 

“Di Pantai Pandawa, Kopi Luwak ini dijual dengan harga mencapai Rp 500 ribu per sloki. Kami sudah menjalin MOU dengan beberapa mitra untuk pemasaran kopi, tapi produksi yang terbatas membuat kami harus selektif dalam memenuhi pesanan," tambahnya

 

Dirinya juga mengaku, selama ini Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara telah memberikan sejumlah bantuan untuk mendukung produksi kopi di Desa Perangat Baru.

 

“Bantuan yang kami terima meliputi pembangunan rumah produksi, lantai jemur, serta sarana pertanian seperti pupuk dan herbisida.” Ujarnya

 

Disisi lain, Kepala Desa Perangat Baru juga mengatakan bahwa Kelompok tani kopi di desa ini juga menjadi binaan PHKT, yang secara aktif memberikan pembinaan dan dukungan teknis guna meningkatkan kualitas hasil panen.

 

Hal ini sejalan dengan visi pemerintah desa untuk menjadikan kopi luwak sebagai produk unggulan yang dapat menembus pasar nasional bahkan internasional.

 

Terkait dengan distribusi Kopi Fitrianti juga mengatakan selain adanya MOU, namun di akuinya potensi pasar besar kopi luwak saat ini yakni distribusi kopi lebih banyak mengandalkan penjualan langsung kepada wisatawan yang datang ke desa.

 

"Wisatawan yang datang biasanya membeli kopi sebagai oleh-oleh, namun kami juga berencana untuk memperluas pasar ke luar daerah," tandasnya.

 

Dengan harga yang cukup merogoh kantong perkilogramnya, Fitrianti mengatakan pihaknya melakukan inovasi untuk menarik minat pembeli. Dalam hal ini produksi Kopi Luwak dikemas dalam ukuran 50 gram dan 100 gram.

 

“Varian Kopi Luwak dijual dengan harga Rp 500 ribu per 100 gram, sedangkan varian lain seperti red honey dan natural dijual seharga Rp 80 ribu per 100 gram,” terangnya.

 

Dengan terus berjalanya produksi Kopi Luwak dirinya berharap Desa Perangat Baru dapat terus  berkembang menjadi destinasi wisata kopi di Kalimantan Timur. Dengan dukungan dari pemerintah dan mitra swasta, desa ini optimis dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas Kopi Luwaknya.

 

"Pengembangan Kampung Kopi Luwak ini dimulai sejak 2020 atas inisiatif Bupati Kutai Kartanegara, Edi Damansyah. Kami optimis Kopi Luwak bisa menjadi motor penggerak ekonomi desa," tutupnya

Dengan potensi besar yang dimiliki, Desa Perangat Baru siap menjadi sentra Kopi Luwak di Indonesia, sekaligus mengangkat kesejahteraan masyarakat setempat melalui industri kopi yang berkelanjutan. (Adv/tan)